kitridewi
female - 41 years, Surabaya, Indonesia
Blog 7
-
THE TRUTH WILL SET YOU FREE
THE TRUTH WILL SET YOU FREE
This is a story about a farmer who was very proud of the apples he produced each year, with good reasons. His farm was at a high elevation and the cold winds that came through there made his apples especially crisp and flavorful. Every year, after he harvested his crops, he would polished those apples until they virtually shone. Then he would put them into beautiful packages to show them off. These weren't your ordinary run-of-the-mill apples, but the kind that made beautiful gifts to send loved ones for Thanksgivings or Christmas. As words of his marvelous apples spread, it got to the point where he was inundated with orders, even before he had harvested the fruits.
One year, just before the harvest time, a severe hillstorm pummeled his property. When it was all over, there wasn't a single apple without blemishes on its skin. There was nothing wrong with the apples, they just didn't look as pretty as they usually did, and the farmer was afraid that the people who had ordered them might be disappointed and ask for their money back.
Then he had an idea. He took all the apples with little blemished on the outside, and wrapped every one of them the same way he did every year. He put them in the same kind of packages. Then he added a note. It read "Notice these high quality apples. This year represents the finest crop. You can see the blemishes caused by the hailstorm which created the extreme cold giving the ultimate flavor and the ultimate crispness to these apples"
Not a single order was returned. In fact, just the opposite happened. The following year when his orders started coming in, he had many request from people who wanted to make sure they got the apples with the blemishes this year too!
When you live daily with an understanding of God's love, care, and guidance, you begin to realize that even the "blemishes" of life serve to make you better, stronger, more capable person. And knowing the truth of that will definitely set you free.
When you know the truth of God's concern for you, you will definitely be set free.
"You will know the truth, and the truth will set you free. [John 8:32]
[Positive Minutes Hour of Power] -
Yahudi - Kristen - Islam - Dari Satu Kubu Abraham
Ini tulisan saya di BlogBerita. Selengkapnya ada di sini:
http://blogberita.net/2008/06/22/islam-kristen...
Oleh Kitri Dewi — Agama Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari “satu kubu: kubu Abraham”, tapi justru umatnya sering bertengkar.
Dua minggu lalu Blog Berita mendapat surat dari seorang pembaca — tidak kutulis namanya karena aku belum meminta izin padanya. Dia tinggal di Jerman bersama isterinya dalam rangka kuliah master. Dia Batak muslim seperti aku. Dia menulis: “Banyak sekali situs dan blog yang menceritakan tentang budaya Batak, namun kurasa tidak semua baik atau benar. Banyak tulisan yang sifatnya bukan menjalin tali persaudaraan tapi justru sebaliknya, bahkan banyak juga saya jumpai blog orang Batak yang sifatnya provokatif terhadap agama tertentu.”
Dia sepaham dengan aku bahwa orang Batak harus bersatu bukan semata-mata karena memeluk agama yang sama, tapi karena kebatakan. Kubalas suratnya: “Kau Batak, aku Batak, dia Batak, mereka Batak; maka kita harus bersatu supaya lebih kuat. Lebih jauh lagi: Kau orang Indonesia, aku manusia, dia keturunan Adam, mereka pun ciptaan Tuhan; maka semua orang tidak boleh saling menyakiti, dan harus saling mencintai.”
Prinsipku itu tidak berbeda dengan apa yang ditulis pembaca Blog Berita lainnya, Kitri Dewi, saat mengomentari artikel Mustahil orang Kristen bisa menjawab. Dewi menulis opininya dari perspektif sejarah agama. Sangat bagus, aku suka membacanya. Berikut ini adalah pendapat Kitri Dewi selengkapnya, kukutip secara utuh tanpa diedit, sementara judul di atas adalah bikinan Blog Berita.
Saudara-saudaraku,
Sebenarnya, baik pemeluk agama Islam maupun Kristen pada dasarnya ada 3 kelompok manusia berdasarkan pengalaman, pengertian, dan kedewasaan iman masing-masing sebagai individu maupun jemaat.
Kelompok 1 adalah mereka yang hanya beragama Islam atau Kristen tetapi hanya sebatas KTP nya saja karena di Indonesia orang HARUS punya agama. Titik. Kelompok ini tidak suka membicarakan agama, agama orang lain maupun agamanya sendiri. Begitu ada orang beragama lain yang datang dengan baik dan penuh kasih, sehingga menggerakkan hatinya, akan sangat mudah bagi kelompok ini untuk pindah agama. Bisa karena memang hati yang tergerak (dan kalau ini saya percaya ada camour tangan Tuhan sendiri) ada pula yang hanya melihat karena lebih menguntungkan.
Kelompok 2 adalah mereka yang mengaku setia kepada agama sebagai ideologi yang harus dibela, disakralkan (agamanya yang disakralkan dan dimuliakan), mengaplikasikan agama secara logika, sebatas ritual, dan emosional, tetapi sebenarnya tidak mengenal Allah dan kebenaranNya, sifat dan karakterNya, kehendakNya, melalui apa yang difirmankanNya di dalam kitab suci masing-masing.
Kelompok ke 3 adalah mereka hatinya benar-benar melekat kepada Allah, yang mencari Allah dengan segala kebenaranNya, kemuliaanNya, sifat-sifatNya, karakterNya, kehendakNya, melalui semua yang difirmankanNya di dalam kitab suci masing-masing. Kelompok ini lebih asyik mendengarkan apa kata Tuhan daripada apa kata manusia melalui pengalaman rohaninya menikmati kebaikan dan kemuliaan Tuhan di dalam perjalanan hidupnya.
Sama dengan ketika pemeluk agama Islam dilecehkan oleh kartunis Denmark, melalui film Fitna, dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa pelecehan agama Islam, reaksi pemeluk agama Islam inipun juga berbeda-beda. Orang Islam kelompok 1 reaksinya cuek, kelompok 2 demo besar besaran bahkan ada yang menghalalkan darah orang yang sudah melecehkan, tetapi kelompok 3 tetap asyik menjalankan ibadahnya kepada Tuhan karena percaya kemuliaan Allah tidak akan sedikitpun berkurang hanya karena ulah manusia, dan tetap menjaga hati masing-masing agar tetap bersih dan berkenan bagiNya.
Demikian pula ketika kekristenan dilecehkan atau diserang, 3 kelompok yang mengaku Kristen ini mengambil sikap berbeda-beda sesuai level kedewasaan iman mereka.
Saya mengatakan “kelompok” ini bukan dalam pengertian sebagai organisasi gereja tertentu, tetapi lebih pada pengalaman dan kedewasaan iman dan pengertian masing-masing orang Kristen sebagai individu, yang saya lihat memang ada 3 kelompok besar, terlepas dari gereja atau organisasi kekristenan manapun.
Orang Kristen kelompok 1 yang hanya sebatas Kristen KTP, akan cuek karena tidak tahu menahu, wis embuh, terserah orang mau ngomong apa, EGP, ATAU kemudian pindah agama lain ketika ada orang lain yang menawarkan agama lain yang dia lihat lebih menguntungkan.
Kelompok orang Kristen no 2, karena melihat kekristenan sebagai agama dan ideologi yang harus dibela tetapi sebenarnya tidak pernah mencoba mengerti apa yang benar dihadapan Allah, akan bereaksi keras, seolah-olah sudah didzolimi. Mereka akan ganti menjelek-jelekkan agama orang yang melecehkan, bersikap sama menjadi arogan dan seolah-olah dia dan agamanya yang paling benar dari konteks manusia.
Kelompok orang Kristen yang ke 3 memandang kekristenan bukan sebagai agama, tetapi lebih pada relationship with the Living God. Kelompok Kristen yang seperti ini (again, terlepas dari organisasi dan gereja kristen yang manapun) lebih tertarik mencari hadirat Allah, mendengarkan Tuhan mengatakan apa daripada apa yang dikatakan manusia dan dunia, sehingga pada saat hatinya tergoda untuk berontak tidak terima dengan pelecehan itu, mereka merefer kembali kepada bagaimana dan apa sikap Yesus pada saat dihina, dilecehkan, dipermalukan, disiksa, dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi dan Romawi.
Kelompok ini bukannya tidak merasa gusar dengan semua penyerangan dan pelecehan, bukannya takut membalas karena minoritas, tetapi mereka percaya bahwa Yesus sudah mengalami yang lebih dasyat, lebih sakit, lebih memalukan, tetapi Yesus setia sampai mati dan bangkit lagi, demi melepaskan mereka [yang percaya] dari cengkeraman kuasa dosa dan maut. Itu sebabnya secara rohani, walaupun mereka gusar dan sebenarnya bisa berbuat sesuatu, mereka bertahan untuk taat kepada kemimpinan Yesus, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengampuni orang-orang yang melecehkan karena orang-orang ini tidak mengerti, dan menjaga agar hati tetap bersih dari segala kepahitan. Kelompok orang Kristen yang ini, justru berkeyakinan bahwa bila mereka membalas dengan ganti melecehkan apalagi sampai menumpahkan darah, itu akan menyedihkan Tuhan, itu adalah pemberontakan terhadap perintah Allah Yang Maha Tinggi, bahwa hanya Allah saja yang berhak untuk membalas.
Ini pula sebabnya, di kalangan orang Kristen tidak ada ajaran untuk menganggap orang Yahudi sebagai musuh, walaupun secara perhitungan manusia, harusnya orang Kristen lah yang lebih benci kepada orang Yahudi karena orang Yahudi lah (selain orang Romawi) saat itu yang merendahkan, mempermalukan, menghina, melecehkan, dan membunuh Yesus dengan cara seperti orang terkutuk.
Selain karena ketaatan kepada keteladanan Yesus, orang Kristen kelompok ini memahami dan percaya bahwa secara rohani melalui Abraham (Ibrahim) sebagai bapa rohani mereka, orang Yahudi dan orang Islam adalah saudara. Orang Kristen yang membaca Alkitab akan tahu sejarah dan akan menghormati sesama pemeluk agama Allah sejak mulai Abraham. Kekristenan lahir justru setelah kematian Yesus, demikian pula Islam ada setelah ada Nabi Muhammad.
Pada awalnya hanya ada 2 kelompok bangsa yaitu bangsa yang menyembah dan mengorbankan persembahan darah kepada banyak dewa (kafir), dan bangsa yang menyembah satu Tuhan, Yang Maha Kuasa Allah Abraham, Allah Ismael, Allah Iskak, Allah Yakub (Israel). Catatan: Israel tidak identik dengan Yahudi. Disebutkan di Alkitab maupun Al Quran, bahwa yang disebut sebagai Israel adalah Yakub (jadi berbeda dengan Negara Israel jaman sekarang ini), yang disebut bangsa Israel di Alkitab maupun AL Quran adalah Yakub, anak Iskak, cucu Ibrahim, dan bangsa keturunannya. Yakub (Israel) sendiri punya 12 keturunan dan dari 12 keturunan inilah ke 12 bani Israel ada, salah satunya Yehuda (Yahudi).
Ismael anak Abraham dari Ibu Hagar (Hajar) dan Iskak anak Abraham dari Ibu Sara. Iskak menurunkan Yakub (Israel) Yakub menurunkan Yusuf (selain 11 saudara lainnya, salah satunya Yehuda yang menurunkan bangsa Yahudi). Dari keturunan Yehuda ini setelah kesekian puluh lahir Daud AS, yang menurunkan Salomo (Sulaiman AS) dan pada keturunan ke 14 setelah Daud lahirlah Yesus melalui perawan Maria (Maryam).
Israel artinya “Pangerannya Elohim/Allah” (maksudnya yang disayang oleh Allah), Ismael artinya Yang didengarkan oleh Allah. Seperti keturunan Abraham yang lain, Ismael juga diberkati sebagai bapa dari bangsa yang besar, dan setelah sekian puluh keturunan, dari Ismael ini lahir Muhammad yang mengajarkan Islam.
Jadi menurut hemat saya, orang Kristen yang menjadi gusar termasuk yang menjadi pahit dan mengeluarkan kata-kata hujatan di forum ini, sebenarnya sudah mengingkari identitas kekristenannya.
Secara keimanan memang ada beberapa hal fundamental yang berbeda, tetapi orang Kristen dan Islam, (termasuk pemeluk agama Yahudi) bila berhadapan satu sama lain hendaknya mengingat sejarah bukan hanya sejak jaman Musa, Yesus atau jaman Muhammad, tetapi ditarik lagi jauh ke belakang pada jaman Ibrahim, dan ditarik lagi jauuuh ke depan bahwa kita sama-sama menantikan kedatangan Yesus (Isa al Masih) yang ke dua kalinya untuk memerintah dengan kasih dan damai sejahtera. Orang Islam maupun Kristen sama-sama mengimani bahwa kelak Setan (Dajjal) akan dikalahkan oleh Isa (Yesus).
Pada saat itulah semua kebenaran yang sejati akan terbuka dan menjembatani semua perbedaan selama ini, kita akan dikembalikan lagi seperti jaman Ibrahim, dipersatukan lagi sebagai satu jemaat umat Allah Yang Maha Kuasa. Dengan begitu kita akan melihat satu sama lain sebagai saudara, bukan saingan, bukan musuh, bukan untuk dijelekkan, bukan untuk direndahkan satu dari yang lainnya, tetapi untuk dikenal dan dipahami satu sama lain tanpa menghakimi. Allah sendiri yang akan menghakimi.
Demikian saudara-saudaraku. Terima kasih. -
KEMBALINYA ISA AL MASIH MENURUT AL QURAN DAN AL HADIST (4)
KEMBALINYA AL-MASIH 'ISA DI AKHIR ZAMAN
sumber: www.answering-islam.org
(Part 4)
BAB 4: YANG TANPA BANDINGNYA
Dari pembahasan Hadis kita dalam tiga bab di atas, adalah jelas bahwa para pemeluk Islam di awal perkembangan Islam, termasuk Nabi Muhammad, saw., sendiri, sangat menghormati sekali Isa Al Masih. Dengan hanya seketika dan dengan mudahnya mereka memahami bahwa Isa Al Masih akan melenyapkan si Dajjal, di samping memperbaharui secara menyeluruh semua ciptaan Allah, hal ini merupakan suatu pertanda bahwa mereka begitu tinggi menempatkan Isa Al Masih dalam pikiran dan lubuk hatinya.
Jika kita kumpulkan kesan-kesan yang telah kita dapatkan sampai saat ini tentang kedatangan kembali Isa Al Masih, maka bisa dirangkum menjadi kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:
1. Di Hari Kiamat, kejahatan akan merajalela di dunia di mana Islam akan luntur dan Al-Qur'an akan kembali ke langit. Doa-doa mati, tidak terjawab atau terkabul.
2. Si Dajjal akan muncul menipu manusia di dunia. Tipuannya akan merupakan yang terbesar menyerang kebenaran yang hak dari Allah di setiap saat. Orang-orang yang beriman lebih merindukan mati untuk menghindari cobaan si Dajjal di mana kekuasaannya sangat besar sampai-sampai mereka yang ada di dalam kubur pun beriman kepadanya.
3. Orang yang akan menguasai si Dajjal haruslah orang yang lebih kuat darinya. Orang tersebut adalah Isa Al Masih, yang akan dikirim Allah dari Syurga untuk tujuan ini.
4. Ketika si Dajjal melihat Isa Al Masih, ia akan larut seperti garam larut dalam air. Isa Al Masih akan menghancurkan kekuasaan kejahatan yang terbesar dalam sejarah umat manusia ini dengan sekali pandang saja.
5. Setelah ia menghancurkan si Dajjal, Isa Al Masih akan memutarbalikkan arus kejahatan ini dan meningkatkan kesolehan manusia. Di dunia yang sarat dengan doa-doa yang tidak terkabul, ia akan 'sanggup memanjatkan doa sebenarnya' yang boleh memulihkan hati umat manusia. Ia akan menghakimi dan memperbaharui keadaan dunia.
6. Isa Al Masih akan mengambil alih kepemimpinan politis dan rohani di seluruh dunia. Ia akan tetap mempertahankan kesucian dan memimpin sembahyang yang benar. Di bawah kekuasaannya, kebencian dan permusuhan akan hilang, penyakit dan kematian akan lenyap, dan alam semesta akan diperbaharui dengan keselarasan yang sempurna.
7. Isa Al Masih akan melaksanakan pekerjaan ini sendiri tanpa bantuan orang ataupun malaikat.
8. Isa Al Masih akan menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bathin bagi semua orang yang menyentuhnya. Oleh karena itu, kerinduan orang-orang yang sangat dalam untuk memuja maupun mengabdi kepada Khaliknya akan dipuaskan sepenuh-penuhnya, dan pada waktu itu, Allah akan menerima semua penyembahan sejati yang layak diperoleh-Nya.
Singkatnya, bila Isa Al Masih turun dari langit, bumi akan terang benderang dengan Nur Ilahi. Orang-orang yang beriman terdahulu dengan jelasnya melihat hari-hari di mana Isa Al Masih akan datang kembali ke dunia yang sangat cantik dan agung serta mulia—Firdaus yang mendatang di bumi .
Kesemuanya yang diungkapkan tersebut akhirnya meninggalkan suatu pertanyaan besar. Jika Allah telah memilih Isa Al Masih sebagai Wali-Nya di bumi untuk semua hal yang diuraikan, maka, siapa sebenarnya Isa Al Masih?
Yang Di Hadapan Siapa Mesjid Akan Menengadah
Mesjid-mesjid memberikan Isa Al Masih suatu sambutan yang tidak lazim. Suatu Hadis mengatakan:
Mesjid-mesjid akan menengadah begitu Isa Al Masih muncul, karena ia akan datang kembali...dan bagi orang yang hidup sampai saat kedatangannya akan percaya kepadanya. [130]
Ini sambutan yang luar biasa! Semua mesjid di dunia membungkuk, menghormati Isa Al Masih.
Pada saat mata orang menjadi buta dan pikirannya tertipu, batu-batu mesjid akan menyerahkan penghargaan yang sepantasnya kepada Isa Al Masih. Dan mengapa tidak? Jika para malaikat disuruh menyembah dan membungkukan dirinya kepada Nabi Adam—yang kemudian mengeluarkan manusia dari Firdaus—makanya betapa harus lebih besar mereka menyembah orang yang membawa kembali manusia ke Firdaus. Begitupun mesjid-mesjid tidak akan segan untuk melakukan hal yang sama.
Penguasa Umatnya Nabi Muhammad, saw
Nabi Muhammad, saw., berdoa memohon perlindungan dari Allah dari godaan si Dajjal. [131] Isa Al Masih datang untuk menghancurkan si Dajjal hanya dengan sekali pandang. Dari seluruh Hadis, tidak ada satu ceritera pun yang membicarakan Nabi Muhammad, saw., atau orang lainnya yang dibangkitkan kembali untuk memerangi Al Masih yang Palsu untuk memenuhi maksud-maksud Allah, atau bahkan tidak ada siapa yang boleh berperan serta. Isa Al Masih lah yang akan menjalankan peranan yang berserjarah ini tanpa bantuan siapa pun.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad, saw., merasa bahagia bahwa Isa seyogyanya mengunggulinya sebagai penguasa umatnya. 'Tidak ada nabi atau utusan Allah di antara aku dan Isa, hanya Isalah yang akan mengungguliku di bangsaku setelah aku. [132]
Kesan yang boleh dipetik dari Hadis ini adalah bahwa umat Nabi Muhammad, saw., akan merupakan bagian dari umat dalam kekuasaan Isa Al Masih di Hari Kiamat. Memang benar dan jelas sekali, Nabi Muhammad, saw., menganggapnya sebagai suatu kehormatan baginya bahwa Isa Al Masih merupakan hakim umatnya. Ia puas dan senang bahwa umatnya akan menjadi umat Isa Al Masih sebelum Hari Penghakiman.
Inilah jelas dari Hadis yang mengatakan bahwa bila Isa Al Masih menyalami Nabi Muhammad, saw., di dalam kubur, Nabi Muhammad, saw., akan membalasnya kembali: 'Isa, anak Maryam, akan turun ke dunia....Ia akan mendatangi kuburanku dan menyalamiku dan aku akan membalas salamnya. [133]
Satu Teriakan Saja
Suyuti menghubungkan dua ceritera tentang kekuasaan Isa Al Masih membangkitkan manusia dari kubur, tetapi titik berat yang khas suara Isa Al Masih.
Bani Israel datang kepada Isa dan memohon kepadanya: 'Saam, anaknya Nabi Nuh, dikubur disini, tidak jauh. Panggillah Tuhan untuk membangkitkannya kembali dari kubur.' Isa kemudian memanggilnya hanya dengan sekali teriakan, dan Saam keluar dari kubur tetapi rambutnya beruban. Orang yang menyaksikan berucap, 'Ia mati ketika sedang muda belia—mengapa rambutnya beruban?' Saam menjawab, 'Ketika saya mendengar suara Isa Al Masih, saya menganggapnya "Satu Teriakan Itu".' [134]
Dalam ceritera yang kedua, Isa menghidupkan saudaranya:
Ketika kuburan saudaranya diperlihatkan kepadanya, ia memanggilnya dengan satu teriakan. Saudaranya itu keluar dengan rambut beruban....Isa menanyakan, 'Apa yang terjadi kepadamu?' Ia menjawab, 'Saya mendengar suaramu dan saya menganggapnya "Satu Teriakan Itu".' [135]
Ungkapan 'hanya satu teriakan' ditemukan dalam beberapa ayat Al-Qur'an.
Mana bisa kamu akan dapat menyelamatkan diri dari 'hura-hara goncangan suatu hari', di mana anak-anak dapat beruban karena memikirkan kedahsyatannya kalau kamu tetap saja kafir. [136]
Tiada lain yang mereka nantikan, hanya satu teriakan yang berkepanjangan tidak bersela. [137]
Dan dengarkanlah [hai rasul pada rangkaian peristiwa Kiamat], suatu hari di mana malaikat menyeru dari tempat yang dekat, dari tempat mana, mereka mendengar teriakan dengan sebenarnya. Itulah 'Hari Kemunculan'. Sesungguhnya Kamilah yang menghidup dan mematikan. Dan hanya kepada Kamilah tempat kembali. Pada hari, di mana bumi belah-belah, lalu mereka segera bermunculan. Pengumpulan yang demikian bagi Kami adalah mudah. [138]
Tidak ada lain yang mereka nanti-nantikan, selain dari satu teriakan saja; teriakan mana, akan memusnahkan mereka ketika mereka masih bertengkar. [Karena itu], mereka tidak sempat membuat suatu wasiat pun, dan tidak sempat [pula] menemui keluarganya. Dan ditiuplah [untuk kali yang kedua], maka dengan serta-merta mereka keluar dari kuburnya, dan segera datang kepada Tuhannya. Mereka mengeluh: 'Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangunkan kami dari tempat kami tidur ini?' Inilah [peristiwa] yang dijanjikan oleh Tuhan yang Maha Pengasih [dahulu], dan kini terbuktilah kebenaran Rasul-rasul [yang pernah mengatakannya. Mengembalikan hidup sesudah mati itu] hanya dengan satu kali teriakan saja. Lalu mereka semua dibawa ke hadapan Kami. Pada hari [Kiamat] itu, seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun, dan kamu tidak diberi pembalasan kecuali menurut imbangan perbuatanmu. [139]
Hadis menjelaskan 'hanya satu teriakan saja' merupakan pernyataan Allah yang terakhir mengungkapkan kemarahannya ke atas dunia:
...Kita tidak tahu saat Hari Kiamat...dan begitu juga kita tidak tahu kapan satu teriakan itu....Belum ada sebelumnya yang tidak diikuti oleh kemarahan Allah atas dunia ini. [140]
Ceritera-ceritera yang disajikan Suyuti menunjukkan bahwa suara Isa Al Masih seperti suatu teriakan akhir 'yang berkepanjangan tidak bersela.' Suaranya bahkan akan membuat orang yang mati menjadi bergetar dan rambutnya langsung beruban karena rasa takutnya yang besar dan karena juga mereka pikir itu adalah 'Satu Teriakan Itu' yang menunjukkan 'Hari Kemunculan', yaitu Hari Kebangkitan, Hari Kiamat.
Apakah orang Muslim di masa awal perkembangannya Islam percaya bahwa suara Isa Al Masih bisa membangunkan orang mati di Hari Kiamat dan mengantarkan mereka pada pengadilan akhir Allah? Ceritera-ceritera Suyuti menjawab demikian.
Pekerjaan Isa Yang Paripurna
Kemudian timbul banyak pertanyaan: Apa lagi yang harus diselesaikan yang tidak akan Isa Al Masih lakukan? Setelah semua keberhasilannya, bisakah yang lainnya memperbaiki atau bahkan menambah hasil kerjanya? Apa lagi kebutuhan manusia yang dikhawatirkan atau harapan yang mungkin tidak akan dipuaskan ketika Isa Al Masih datang kembali?
Keberhasilan apa lagi yang bisa didapat setelah transformasi yang bersifat mujizat dari alam yang kembali seperti saat sebelum dosa masuk ke dunia?
Apa lagi yang bisa dikerjakan setelah adanya pembaharuan atas manusia diengan diberikannya kewenangan sehingga ia menjadi Khalifah Allah yang benar di dunia untuk pertama kalinya setelah suatu kejatuhan?
Apa lagi yang bisa dicapai setelah kedamaian ditegakkan di bumi dan perang antara bangsa tidak ada lagi?
Apa lagi yang bisa diraih setelah Isa Al Masih meneggakan kedamaian antara manusia dengan saudaranya dan semua kebencian, kedengkian, dan kejahatan hati dilenyapkan? Dengan ini, Hadis akan terpenuhi: 'Seluruh dunia akan sarat dengan perdamaian seperti sebuah bejana yang terisi air.' [141]
Apa lagi yang bisa dicapai setelah umat manusia dikembalikan lagi untuk patuh atau taat kepada Pembuat dan Pencipatnya sehingga 'satu rak'ah sholat akan lebih berharga daripada dunia beserta seluruh isinya.' [142]
Seorang Milik Semua Bangsa
Sekali lagi, kita bertanya: Siapakah Isa Al Masih? Siapakah orangnya yang bisa memuaskan setiap cita-cita, kerinduan, dan kebutuhan umat manusia? Siapakah orangnya yang bisa menyelesaikan semua masalah dunia dan memulihkan ciptaan Allah kembali ke keadaan aslinya sewaktu dibikin oleh Tuhan yang Maha Kuasa?
Ia hanya satu orang tetapi setiap orang menjadi puas. Seorang manusia bagi berjuta-juta umat. Seorang manusia bagi semua bangsa. Seorang manusia yang mengisi hati semua orang.
Mengapa hanya orang ini yang lebih agung daripada nabi-nabi lainnya dalam setiap langkahnya? Apa yang Allah sedang coba untuk membukakan rahasianya melalui dia? Bisakah kita mengabaikan dia begitu saja?
Adalah penting untuk dicatat bahwa rajanya semua penipu adalah si Dajjal yang tidak akan berpura-pura sebagai Nabi Musa atau Nabi Ibrahim atau nabi-nabi lainnya; ia hanya akan berpura-pura sebagai Isa Al Masih.
Ini merupakan suatu pernyataan yang tidak langsung yang mengungkapkan bahwa Isa Al Masih memiliki kepribadian yang teragung yang pernah nampak di bumi ini. Ini suatu konfirmasi dan pengesahan akan penjunjungan dan kemulian yang unik yang lebih mulia atas semua sifat manusia dan nabi-nabi lainnya, yaitu, suatu penjunjungan dan kemulian yang Allah sendiri telah memilih untuk Isa Al Masih.
Jelas, penjunjungan yang semacam ini tidak bisa diberikan bagi manusia biasa, karena kalau diberikan kepada manusia biasa, ia akan didewa-dewakan seperti halnya memuja berhala. Jadi, sudah amat jelaslah bahawa Al-Masih Isa itu bukanlah sekadar seorang "manusia biasa" sahaja !
Indeks Utama
[1] Nurbakash, Javad, Jesus in the Eyes of the Sufis, Khaniqahi-Nimatullahi Publications, London, 1983, hal. 25.
[2] Ibid., hal. 9.
[3] Ibid., hal. 53-54.
[4] Ibid., hal. 39.
[5] Al Hendy, Kanzol 'Ummal, Jilid 17, Hadis No. 1034.
[6] Ibid., Hadis No. 1033.
[7] Al-Qur'an 43:61.
[8] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (versi bahasa Ara
, bagian 20, catatan kaki 4. Tekanan di aslinya.
[9] Ibid., Jilid 23, Hadis No. 116 (2940), catatan kaki 1.
[10] Al Hendy, Kanzol 'Ummal, Jilid 17, Hadis No. 1004.
[11] Ibid., Hadis No. 604.
[12] Dikutipkan Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, dari Tirimizy, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 12.
[13] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 791.
[14] Ibid.
[15] Suyuti, Commentary on the Qur'an 47:18.
[16] Al Hendy, Kanzol 'Ummal, Jilid 18, Hadis No. 791.
[17] Ibid., Hadis No. 707.
[18] Ibid., Hadis No. 710.
[19] Ibid., Jilid 17, Hadis No. 754.
[20] Ibid., Hadis No. 704.
[21] Ibid., Hadis No. 621. Lihat juga Sunan Ibn-Majah: 2:259, dan El-Sha'arany: Mukhtasar Tazkeraht El-Emam Al-Qartaby, hal. 170.
[22] Sahih Al-Gam'e Al-Sagir 2638, disyahkan Syekh Naser Al-Din Al-Albany. Dikutipkan oleh Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 20.
[23] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 539.
[24] Sahih Al-Gam'e Al-Sagir 2638, disyahkan Syekh Naser Al-Din Al-Albany. Dikutipkan oleh Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 56.
[25] 'Aqidat Al-Ferqah Al-Nageyah, al Sabouni, disunting oleh Abd Allah Hajaj, Dar Al-Gil, Beruit, 1987, hal. 212.
[26] Sunan al Tirmizi, Jilid 5, hal. 18, Hadis No. 2630.
[27] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 951.
[28] Ibid., Hadis No. 987.
[29] Ibid., Hadis No. 992.
[30] Ibid., Hadis No. 935. Lihat juga Sahih Muslim, versi Bahasa Inggris, Hadis No. 7037.
[31] Sahih Bukhary, versi Bahasa Arab-Inggris, Jilid 9, Hadis No. 243.
[32] Mosnad Ibn Hanbal, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, 1969, Jilid 2, hal. 522.
[33] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 771.
[34] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (terjemahan bahasa Inggris). Hadis No. 7015.
[35] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 971.
[36] Ibid., Hadis No. 1001.
[37] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 769.
[38] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (terjemahan bahasa Inggris). Hadis No. 7005.
[39] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (terjemahan bahasa Inggris), Hadis No. 7000.
[40] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1017.
[41] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 1037.
[42] Ibid., Jilid 17, Hadis No. 1028.
[43] Ibid., Hadis No. 1018.
[44] Ibid., Hadis No. 1024.
[45] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 791.
[46] Suyuti, Commentary on the Qur'an 6:158.
[47] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 812.
[48] Sunan Ibn Majah, Jilid 2, Hadis No. 4077.
[49] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 976.
[50] Ibid., Hadis No. 1015. Lihat juga Sahih Muslim, terjemahan bahasa Inggris, Hadis No. 6990 dan 6991.
[51] Ibid., Hadis No. 1014.
[52] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 804.
[53] Ibid., Jilid 17, Hadis No. 1025.
[54] Suyuti: Al 'El'lam Behokm Isa. Dikutipkan oleh Haddad di Madkhal ela al Hewar al Islamy al Masihy, Buku 1, al Maktabah al Boulesiah, Lebanon, 1969, hal. 181.
[55] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 994.
[56] Sahih Muslim,terjemahan bahasa Inggris, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah, Hadis No. 2897.
[57] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 770.
[58] Ibid., Hadis No. 808.
[59] Sahih Al-Gam'e Al-Sagir, Hadis No. 4183. Lihat juga Al Hendy Jilid 17, Hadis No. 1020.
[60] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 919.
[61] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 814.
[62] Ibid., Jilid 17, Hadis No. 1018.
[63] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 803.
[64] Ibid., Hadis No. 802.
[65] Ibid., Hadis No. 813.
[66] Suyuti, Commentary on the Qur'an 6:158.
[67] Al Hendy, Kanzol 'Ummal, Jilid 17, No. 704.
[68] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 604.
[69] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 791.
[70] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 802.
[71] Sahih Muslim,terjemahan bahasa Inggris, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah, Hadis No. 2897.
[72] Al-Qur'an 2:30.
[73] Al-Qur'an 20:123.
[74] Al-Qur'an 5:30.
[75] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 987.
[76] Dikutipkan Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, dari Tirimizy, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 12.
[77] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 992.
[78] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1018.
[79] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 919.
[80] Al-Mashkat 5394, dikutipkan Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, dari Tirimizy, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 7.
[81] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 804.
[82] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 814.
[83] Al-Qur'an 49:13.
[84] Sahih Al-Gam'e Al-Sagir, disyahkan Syekh Naser Al-Din Al-Albany, Hadis No. 4183. Lihat juga Al Hendy Jilid 17, Hadis No. 1020; Jilid 18, Hadis No. 808.
[85] Al-Qur'an 20:118-119.
[86] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 919.
[87] Al-Qur'an 2:35.
[88] Suyuti, Commentary on the Qur'an 6:158.
[89] Al-Qur'an 3:48. Lihat juga Al-Qur'an 5:110.
[90] Al Hendy, Kanzol 'Ummal, Jilid 18, Hadis No. 814.
[91] Sahih Al-Gam'e Al-Sagir, disyahkan Syekh Naser Al-Din Al-Albany, Hadis No. 4183. Lihat juga Al Hendy Jilid 17, Hadis No. 1020.
[92] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 935.
[93] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 771.
[94] Mosnad Ibn Hanbal, Jilid 2, hal. 522. Lihat juga Sahih Bukhary, versi Bahasa Arab-Inggris, Jilid 9, Hadis No. 244.
[95] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (versi bahasa Ara
, bagian 20, catatan kaki 4.
[96] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (terjemahan bahasa Inggris). Hadis No. 7015.
[97] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 971.
[98] Sunan Ibn Majah, Jilid 2, hal. 1361, Hadis No. 4077.
[99] Suyuti, Commentary on the Qur'an 6:158.
[100] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 789.
[101] Al-Qur'an 37:6. Lihat juga 41:12; 67:5.
[102] Al-Qur'an 89:21-23.
[103] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 976.
[104] Ibid., Hadis No. 1001.
[105] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 593.
[106] Sahih Muslim, 8:138. Dikutipkan Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, dari Tirimizy, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 80.
[107] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 769.
[108] Al-Qur'an 7:16-17.
[109] Al Hendy, Jilid 18, Hadis No. 814.
[110] Al-Qur'an 2:210.
[111] Suyuti, Commentary on the Qur'an 6:158.
[112] Al-Qur'an 39:69.
[113] Al-Qur'an 43:61.
[114] Qartabi, Fath al-Qadeer, menafsirkan Al-Qur'an 43:61.
[115] Shokani, Fath al-Qadeer, menafsirkan Al-Qur'an 43:61.
[116] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1017.
[117] Ibid., Hadis No. 1018.
[118] Sahih Muslim,terjemahan bahasa Inggris, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah, Hadis No. 2897. Lihat juga Sunan Ibn Majah, Jilid 2, Hadis No. 4077.
[119] Sahih Muslim. Dikutipkan Syekh 'Abd Al-'Aziz 'Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahidith Said Al-Morsalin 'An Hawadeth 'Al-Qarn 'Al-'Eshrin, dari Tirimizy, Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, Edisi Pertama, 1982, hal. 32.
[120] Al-Qur'an 95:4.
[121] Sahih Bukhary, versi Bahasa Arab-Inggris, Jilid 9, Hadis No. 244. Lihat juga Mosnad Ibn Hanbal, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, 1969, Jilid 2, hal. 522.
[122] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1018.
[123] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 814.
[124] Ibid., Jilid 17, Hadis No. 919.
[125] Al-Qur'an 3:49.
[126] Al Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1034.
[127] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 813.
[128] Ibid., Jilid 17, Hadis No. 1018.
[129] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa'ah (terjemahan bahasa Inggris), Hadis No. 7000.
[130] Ibid., Jilid 18, Hadis No. 803. -
TAKUT SETAN? RUGI!
TAKUT SETAN? RUGI!
Sharing ini saya ambil dari berbagai buku yang saya baca, yang mana di dalamnya ada beberapa kesaksian dari orang yang sebelumnya benar-benar secara sadar menyerahkan dirinya berbakti kepada setan sejak masih anak-anak sampai dewasa.
1. Setan ada di mana-mana, jangan kan kok di tempat2 yang dianggap angker, di rumah kita sendiri juga ada, di manapun kita berada setan selalu ada dan siap menjerat kita pada saat kita lengah
2. Tujuan setan yang utama adalah bagaimana caranya supaya manusia di dunia ini terpisahkan dari kebaikan Tuhan, sehingga merasa ada atau tidak ada Tuhan, gak kacek, tidak bisa melihat kebaikan/nikmat Tuhan yang diberikan, tidak bisa punya perasaan syukur kepada Tuhan, berprasangka buruk kepada Tuhan atas apapaun yang diterima dan seterusnya, sehingga merasa harus ada kekuatan lain untuk mendapatkan rejeki, kekuatan, perlindungan, dan semua yang kita butuhkan dalam hidup di luar Tuhan. Semua kekuatan di luar Tuhan tidak ada lain selain setan itu sendiri. Akibatnya semakin banyak orang pakai dukun, tukang ramal, dan ”orang pintar” – walaupun tetap menjalankan ibadah agamanya.
3. Pemerintahan setan sangat rapi, melebihi pemerintahan dunia manusia. Ada penguasa udara, lautan, sungai-sungai, bawah tanah, gunung-gunung, negara, propinsi, sampai tingkat RT dan rumah-rumah. Tugasnya sama, menjerat orang-orang yang berdiam di situ. Jadi jangan heran kalau ada Pak Lurah, Bupati, para politikus, pemuka agama, tokoh masyarakat, menteri dan seterusnya yang jatuh dalam kasus korupsi, suap, fitnah, menyebarkan kekacauan dan hasutan, dan seterusnya, orang tua yang tega merusak anak kandung sendiri, bahkan membunuh.
4. Ada setan tingkatan tertentu yang memang tugasnya menjerat orang-orang yang justru disiplin dalam ibadah. Orang-orang yang sudah terbiasa mengendalikan nafsu kedagingannya, tidak akan diserang untuk jadi pemabuk, tamak makan, mencuri, madon, dan sebagainya, (walaupun tetap perlu hati-hati) tetapi pikirannya yang menjadi sasaran. Itu sebabnya banyak orang pintar, rajin beribadah ke mesjid/gereja, tetapi masih bisa terjerat dalam pikiran negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain, sedih terus, nelangsa terus, merasa teraniaya, merasa jadi korban keadaan, merasa tidak diperlakukan adil, merasa tidak layak, merasa diri kecil dan remeh, dan seterusnya, teruuusss dijerat sampai lama-lama misi si setan terlaksana, orang-orang baik ini tidak bisa lagi bersyukur dan memuji kebaikan Tuhan.
5. Setan juga hafal dan tahu semua Firman Allah, semua kitab suci, dari Alkitab, Injil, Al-Quran, pokoknya semua kitab yang dipercaya manusia sebagai pedoman ibadah dan pengenalan kepada Tuhan, dan memakai ini juga sebagai salah satu untuk menjerat manusia yang justru religious. Jadi jangan heran kalau ada pemuka agama atau tokoh masyarakat yang sangat religious tapi tanpa disadarinya memakai dan memutarbalikkan ayat-ayat kitab suci untuk menimbulkan kekacauan, kebencian, perpecahan, fitnah, permusuhan, peperangan, dan seterusnya, apapun katar belakang agama yang di pakai. Bukan berarti orang-orang itu jelmaan setan, tetapi orang-orang baik ini dalam cengkeraman pengaruh setan.
6. Tingkatan setan berikutnya adalah roh-roh yang bertugas mendampingi dukun dan tukang ramal. Si dukun dan tukang ramal nasib diperalat untuk menjerat manusia lainnya supaya lebih percaya kepadanya daripada kehendak Tuhan. Mula-mula roh jahat ini akan memberikan semuanya melalui si dukun/tukang ramal/ahli nujum dan sejenisnya supaya si manusia percaya dulu. Begitu si manusia percaya dan lebih bergantung kepada si dukun daripada kekuasaan Tuhan, mulailah semuanya jadi bulan-bulanan tipu daya setan, hidupnya, rumah tangganya, rejekinya, masa depannya, bahkan masa depan anak dan cucunya, semua seluruh aspek kehidupannya, dalam genggaman setan. Yang sudah masuk jerat ini akan sangat sulit menemukan jalan kembali, hanya pertolongan dan kemurahan Tuhan saja yang bisa menyelamatkannya.
7. Banyak manusia yang tanpa sadar terjerat dalam praktik ini, ada yang skala besar benar-benar untuk menghancurkan lawannya, ada yang sekedar supaya kariernya lancar, bisnisnya lancar, dagangannya laris manis. Padahal bahayanya sama, mau skala besar maupun skala kecil.
8. Setan yang menguasai dukun inipun bertingkat-tingkat, yang kuat adalah roh-roh yang memakai dukun untuk merusak dengan black magic (santet). Santet inipun ada 3 tingkatan, rendah, menengah, dan tingkat tinggi. Orang yang biasa main dukun dan black magic tidak akan tahan 5 menit dari santet tingkat tinggi kecuali bisa melarikan diri ke luar dari wilayah negara sebelumnya. Orang yang hatinya selalu sedih, nelangsa, kelara-lara, iri, dipenuhi ketakutan, sangat rentan terhadap serangan santet, tapi orang yang berdzikir dan hatinya dipenuhi kekaguman dan pujian kepada Tuhan tidak akan mempan santet, sedasyat apapun santet tersebut. Sudah ada 3 penulis mantan dukun santet memberikan kesaksian yang sama: orang yang banyak tertawa, hatinya selalu gembira, susah disantet.
9. Tingkatan setan yang paling rendah punya tugas menakut-nakuti secara fisik, menyebarkan ketakutan, yang ngetoki jadi mbak-mbak cantik lah, gendruwo lah, atau anak-anak kecil dsb. Jadi mereka ini sebenarnya setan yang tingkatnya paling rendah sehingga tugasnya pun yang paling mudah – sebatas ngece, ngiwi-iwi, kurang ajar, tapi tidak menyesatkan manusia, kecuali manusia itu sendiri yang tidak bisa mengalahkan rasa takut dan naah!! Pada saat kita takut itulah serangan yang lebih kuat dari setan yang tingkat nya lebih tinggi lebih mudah masuk. Setan juga mengenal apa namanya team work dan sangat rapi dalam bekerja dan bagi tugas.
TIPS:
Adalah RUGI BESAR kalau kita takut kepada setan yang berbentuk memedi nakut-nakuti, ini setan level kroco. Usir sekalian dengan meninggikan Tuhan, pokoknya jangan ditakuti, setan ini sungguh tidak layak ditakuti. Kaget boleh karena memang ini pemandangan yang tidak biasa, tapi segera kuasai diri. Yang justru perlu diwasapadai adalah:
1. Pikira-pikiran negatif dan hati sedih berkepanjangan, termasuk kata-kata yang mengutuk diri sendiri, pekerjaan, anak-anak dan kelaurga kita secara negatif (contohnya: saya ini memang kere, saya ini apa sih orang kecil, tidak berdaya, lemah, weleh perusahaan ini paling-paling tidak bertahan, pekerjaan saya remeh, saya bukan orang penting, anak saya memang anak nakal, etc.). Tidak seperti Tuhan, setan tidak bisa membaca pikiran kita, tetapi memanfaatkan kata-kata kita sendiri dan meneruskannya menjadi kutuk. Itu sebabnya ada pepatah “mulutmu adalah harimaumu”.
2. Tawaran/iklan untuk meramal nasib dan keberuntungan. Setannya lebih canggih sekarang pakai media iklan TV untuk menjerat manusia ke dalam perdukunan dan kemusyrikan, dan sanggup membungkam departemen agama, MUI, PGI, PWI, Keuskupan, dan pemimpin-pemimpin agama, yang biasanya sudah ribut kalau ada film atau pertunjukkan musik seronok, untuk membiarkan iklan seperti ini yang justru lebih berbahaya, merajalela, dari mulai Mama Laurenz, Dedi Corbuzier, dan sekarang ada Kakek Bodo, yang mengklaim dirinya sanggup mengubah nasib dan hidup anda hanya dengan Rp 2000 per sms – weleh weleh.
3. Patung atau benda yang menyerupai makhluk hidup di rumah dan di tempat kerja karena benda-benda ini tempat paling disukai roh-roh jahat untuk bersemayam.
4. Tempat jual beli – pasar, warung, restaurant, pasar yang luar biasa laris. Sering kita menemukan ada restauran yang ”ketoke mung koyo ngono, tapi kok rame dan laris sekali”. Waspadai apapun yang kita makan dari tempat-tempat yang super laris hampir tidak wajar, harus didoakan dulu sebelum masuk mulut untuk mematahkan kutuk dan jerat setan kalau-kalau ada. Banyak pengusaha restauran dan makanan pakai aji penglaris. Kapan-kapan akan saya ceritakan mengenai aji penglaris ini, bagaimana sebenarnya cara kerjanya, dan apa akibat bagi pembeli yang mengkonsumsi makanan/dagangannya, dsb
5. Musik dengan syair negatif. Setan juga memakai kesenian untuk menjerat pikiran dan suasana hati manusia.
6. Acara-acara tradisional kedaearahan yang pakai sesaji, pembakaran menyan dan kembang, penyucian benda-benda keramat, dan penumpahan darah binatang yang tidak jelas tujuannya.
Ini semua sharing, boleh percaya boleh tidak. Tujuan saya adalah berbagi apa yang saya alami dan baca, dengan harapan pembaca yang selama ini takut menjadi tidak takut lagi dengan gangguan-gangguan makhluk2 seperti itu di mana saja.
Mungkin ada sedikit perbedaan karena latar belakang agama yang berbeda, tetapi buku-buku yang saya baca ditulis oleh orang-orang yang juga berbeda latar belakang budaya, agama, bahkan tempat asalnya, dan kesaksiannya mengenai sifat-sifat dan trik-trik setan sama, demikian pula dengan apa yang perlu kita lakukan pada saat serangan terjadi.
7-Jun-2008 - KitriDewi -
10 ARGUMEN MELAWAN HARRY POTTER
Sumber : http://www.lifesite.net/ldn/2005/jul/05071301....
Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan
10 [Sepuluh] Argumen Melawan Harry Potter
Ditulis oleh Seorang Wanita Yang Melakukan Korespondensi dengan Kardinal Ratzinger
Gabriele Kuby author of Harry Potter: Good or Evil
Gabriele Kuby Penulis Tentang Harry Potter : Baik atau Jahat
1. Harry Potter adalah proyek dengan terma global yang panjang untuk mengubah suatu budaya. Di generasi muda saat ini, sikap untuk menahan diri terhadap magis dan klenik [occult] sedang dihancurkan. Dengan demikian, ada semacam kekuatan yang masuk kembali ke dalam masyarakat yang mana Kekristenan telah mengatasinya.
2. Hogwarts, sebuah sekolah magis dan ilmu sihir, adalah sebuah dunia kekerasan dan horor yang tertutup, dunia kutukan dan pesona, dunia ideologi rasis dan korban darah, kejijikan dan obsesi. Terdapat suatu atmosfir ancaman yang berkesinambungan yang mana para pembaca tidak dapat melewatkannya.
3. Sementara Harry Potter muncul pada awalnya untuk melawan kejahatan, tapi nyatanya kemiripan antara Dia dengan Voldermort, musuh besarnya dalam cerita tersebut, lama-lama menjadi semakin jelas. Dalam Volume kelima, Harry sedang kerasukan Voldermort, yang mengakibatkan timbulnya gejala-gejala disintegrasi kepribadian.
4. Dunia manusia mengalami degradasi, dunia para tukang sihir menjadi dimuliakan.
5. Tidak ada dimensi transendental yang positif. Hal-hal supernatural seluruhnya bersifat demonic [iblis-jahat]. Simbol-simbol ilahi dinodai.
6. Harry Potter bukanlah kisah atau cerita dongeng modern. Dalam cerita-cerita dongeng, para tukang sihir adalah figur iblis yang ambigu. Pahlawan melepaskan kekuatan mereka melalui kebaikan. Dalam cerita ini dunianya Harry Potter, tidak ada karakter yang berusaha keras secara konsisten untuk mencapai kebaikan. Karena apa yang nampaknya menjadi tujuan yang baik maka cara-cara jahat akan digunakan.
7. Kuasa pembeda untuk membedakan hal yang baik dengan yang jahat dari para para pembaca dihalang-halangi melalui manipulasi emosional dan kebingungan intelektual.
8. Hal ini adalah suatu serangan terhadap generasi muda, merayu mereka secara penuh permainan ke dalam sebuah dunia sihir dan klenik, lalu mengisi imajinasi anak-anak muda dengan gambar dari sebuah dunia dimana iblis berkuasa yang daripadanya tidak ada jalan keluar malah sebaliknya, dunia iblis digambarkan begitu diinginkan.
9. Mereka yang menilai berbagai pendapat tentang Harry Potter boleh menentang kuasa yang hampir besar sekali yang menekan kelompok anak-anak tersebut, yang sedang dikerjakan melalui korporasi raksasa dan serangan multi media – salah satunya menayangkan elemen-elemen dari pencucian otak secara totaliter.
10. Karena melalui buku-buku Harry Potter ini maka iman kepada Allah yang penuh kasih secara sistematis dirusakkan, bahkan dihancurkan dalam diri orang-orang muda melalui “nilai-nilai” palsu dan penghujatan terhadap Kebenaran Judeo-Kristen. Pengenalan buku-buku ini di sekolah-sekolah tidak bisa ditolerir. Para orang tua seharusnya menolak ijin bagi anak-anak mereka untuk mengambil bagian dalam indoktrinasi Harry Potter demi alasan iman dan hati nurani.
Diposting oleh Leonard Panjaitan di 4:17 PM 0 komentar Link ke posting ini
Label: Harry Potter -
KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA&
SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA"
Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA *
http://ourunity.blogspot.com/2008/05/selayang-...
1. Catatan Pengantar
Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka¬rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya "sekedar ingin tahu", karena penyam¬butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.
Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, "ini iklan poligami", "referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo", tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab.
Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan "secara sambil lari" dalam film ini.
2. Sekilas Film "Ayat-ayat Cinta"
Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini:
Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari kelu¬arga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-¬Qur'an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengu¬tarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.
Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-¬Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tu¬duhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pen¬dekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebas¬kan Fahri.
Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, "ayah"¬nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kan¬dungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Ma¬ria sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan "sungai Nil"-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Ke¬datangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di ru¬mah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.
Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia ter¬baring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia "mem¬bagi cinta" dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas res¬tunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis me¬meluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga hati".
Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri, "karena aku ingin shalat bersama kalian". Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.
3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir - Selayang Pandang
Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Pe¬trus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di "Negeri Firaun" itu. Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebe¬lum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdam¬pingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.
Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan ta¬ta-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula¬-mula. Misalnya:
- Shalat Tujuh Waktu (Sab'ush shala¬wat)[4],
- Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari,
- [5] membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-yang para¬lel dengan Tilawat al-Qur'an,
dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat¬-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur'an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib [6] di tangan sedang membaca kitab Agabea.
Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.
Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-¬idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak ja¬rang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya di¬awali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji'un (Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.
4. Resensi atas Novel dan Film "Ayat-ayat Cinta"
Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat di¬sampaikan dalam film ini:
4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya
Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: "bisyur'ah" (cepat!), tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih "Egypt" nu¬ansanya, bila ia berkata dengan penekanan: "Yala, yala, bisyur'ah, Ya Maria!", misalnya. Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan "melankolis". Ketika ia mengucapkan "Afwan" (terima kasih kembali), menja¬wab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang kecil dari jendela kamarnya: "Musyakirin awi'ala ashir Manggo" (Terima kasih banyak atas juice mangga) [7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: "Afwan Ya Habibi!".
Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi ja¬greed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai pe¬nyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus 'Arabi?, diucapkan dalam dialek terlalu "Saudi Arabia": Qomus 'Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal In¬donesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih "fushah" (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan sebagainya.
Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: "Khalash! Khalash!" (sudah, sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan: "Khalash, khalash ba'ah!". Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kara "La, la, la" (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan "ahlan", biasanya diucap¬kan berkali-kali: "Ahlan, ahlan, ahlan..." Yang lebih mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya: Ana uhibuka, Ana uhibuki.
Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh meng¬ikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai ru¬mah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan wa¬rung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-¬ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembi¬raan mereka).
Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, se¬hingga ber-"suasana Indonesia dan India", ketimbang ber-"suasana Mesir", dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada umumnya.
4.2. Tradisi Kristen Koptik
Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur'an karena ayat-ayat¬nya di-"tilawat"-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.
Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat ke¬dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru¬musan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).
Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: "Ajarilah aku shalat!", mestinya lebih baik diperjelas: "Ajarilah aku shalat secara Islam!". Mengapa? Sebab kata "shalat" saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.
Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal¬ waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan "shalat jam ketiga" (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.
Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, 'Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha' dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-¬waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:
1. "Salat jam pertama" (Shalat as Sa'at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Mrk.16:2).
2. "Salat jam ketiga" (Shalat as-Sa'at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis. 2:15).
3. "Salat jam keenam" (Shalat as-Sa'at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).
4. "Salat jam kesembilan" (Shalat as-Sa'at at Tasi'ah¬), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);
5. "Salat Terbenamnya Matahari" (Shalat al-Ghuru
, yaitu waktu penguburan jasad Kristus (Mrk.15:42).
6. "Salat waktu tidur" (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan;
7. "Salat Tengah Malam" (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Why. 3:3)[9].
Salat Tujuh waktu (As-Sab'u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Me¬ngapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. "Kanonisasi (waktu-waktu) salat" (Shalat al¬-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah doku¬men gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta'alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M.
5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa
Seperti komentar banyak tokoh dalam novel "Ayat-ayat Cinta", memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-¬pesan
keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.
Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi ter¬kadang "kelewat batas". Misalnya, dalam Bab 33: "Nya¬nyian dari Surga" (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rah¬mat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu ang¬gun dan luar biasa. "Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu", kata Bunda Maria, "Apa maumu?". "Aku ingin masuk surga. Bolehkah?", tanya Maria sambil menangis.
"Boleh", jawab Bunda Maria. "Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya". "Apa kuncinya?", tanya Maria. "Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?", tegas Bunda Maria. "Aku tidak mengikuti ajarannya", kata Maria. "Itu salahmu!", kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa jalan. ke surga itu harus lewat Islam.
"Maria, dengarlah baik-baik!", kata Bunda Kristus kepadanya. "Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, "Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: Asyhadu 'an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan 'abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka." Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan me¬laksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah "ending" novel dakwah ini.
6. Catatan Reflektif
Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk me¬nyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa sur¬ga itu hanya "hak orang-orang Muslim". Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apa¬kah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan sete¬lah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui Muhammad.
Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam "lisan Nabi Muhammad" untuk mengajar keyakinan itu? Moga-¬moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-¬demo ketika "Ayat-ayat Cinta" meminjam "mulut suci Bunda Maria" untuk dakwah agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah?
Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan "Injil Yudas", dan "The Da Vinci Code", tanpa mempertimbangkan pera¬saan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah, "berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya" karena publikasi novel dan film itu?"
Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki "lbunda Dunia" ini. Mi¬salnya, tenda-tenda Ma'idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasi¬anal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara 'Idul Milad (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afga¬nistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang "lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri" [11].
Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film "The Fitna", saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film "ayat-ayat Cinta", izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.
*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.
7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta
Hal. 400 - HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.
"Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, "Aku Maryam". Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? "Boleh". Surga memang diperuntukkan bagi semua hamba¬Nya: Tapi kau harus tahu kuncinya?' Apa itu kuncinya? 'Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?' Aku tidak mengikuti ajarannya.' Itulah salahmu.' Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan padamu.
Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lama¬nya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.
[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).
[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat populer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun Islam
[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing House, 1995), him. 126.
[4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab'u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001).
[5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO' A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba'ah,2001).
[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).
[7] Kata "musyakirin awi ala ..." (Terima kasih banyak atas...) adalah dialek khas Mesir, kata "awi" asalnya dari: "qa¬wwi" (besar), dalam bahasa Arab klasik: "Syukran 'ala... " (terima kasih atas...), atau "Alfu syukran 'ala ..." (beribu terima kasih atas...)
[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.
[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik: "These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer..." (hlm. 128). Mengenai Gereja Orthodoks Syria, "...keep usual hours from Matins to Compline, with they describe as the 'protection prayer' (Suttara) before retiring" (hlm. 124). Se¬dangkan Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline" (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).
[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta'alim ar¬ Rusul (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm. 171-172.
[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", di Surabaya Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id
(Sumber: Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara - Lt.4, Awal April 2008) -
I CANT SLEEP
FATHER, I CAN'T SLEEP
My dearest Father in Heaven, Lord of the Universe
I tried to sleep but can’t have these eyes shut for rest
So I decided to sit here alone thinking about You
And the many days I have gone through
What would I do without You Loving me?
The world is so cruel, so distorted, so deceitful, so ruthless
The things that I thought were of true beauty to beleive
Are nothing but meaningless games of the wicked hearts
What would I do without You there for me
They will never understand when I shed these tears
They will laugh at my defeat and call me weak
And push me to run off like cowards hiding in fears
So I will just sit here alone with You
Enjoy Your Loving Spirit enfolding my soul
As I await the daylight to come
And Your new day to begin
In thinking of You my strength renewed
Your Mighty Love has generated new power within me
To give more love with more confidence and faith
I will not be afraid any more because I have You
O Father how I am so blessed with those days of lies
As once again I discover You being the only Truth
The One and Only I can always depend on
The One True Love, King of my heart
So I am sitting here now with new excitement
Anticipating the new day of my life journey with You
Stay with me while I'm waiting for the daylight to restore
And for the surprises of blessing You have for me to explore
I love You, I trust You, and I praise You for Your faithfulness.
Kitri
"In returning and rest shall you be saved, in quietness and in confidence shall be your strength"
[Isaiah 30:15 KJV]
Surabaya, 31 July 2005